Postingan

Jejak | eR_eL

Mengapa harus aku? Pertanyaan itu tak pernah terjawab hingga saat ini. Hingga jasadku yang kini terkoyak tak berbentuk. Berhamburan kemana saja. Tak berbentuk lagi. Namun, setidaknya aku ini lebih baik. Perjalananku yang panjang dan melelahkan ini akhirnya berakhir. Tak ada lagi penambahan dosa pada diriku ini. Tak ada lagi keluh kesah. Tak ada lagi keterpaksaan. Tak ada lagi.             Aku merasa hidupku tak akan lama. Cahaya hidupku mulai redup. Suara-suara di sekitarku mulai samar-samar terdengar. Tak jelas. Ya, seperti hidupku yang tak jelas selama ini. Sia-sia dan kosong. Sekali lagi aku teringat perjalanan hidupku selama ini. Perjalanan yang tak ada seorangpun yang ingin menjalaninya. Kecuali jika ia bukanlah manusia yang tak memiliki perasaan.             Aku lahir di keluarga yang hidup berkecukupan. Bolehlah jika dikatakan juga keluarga berada. Ibu dan ayah memiliki p...

Sepotong Roti - eR_eL

Rumah itu tak pernah benar-benar sepi, meski hanya dihuni dua orang: Ibu dan Damar. Suara radio tua yang memutar lagu-lagu lawas selalu menemani pagi mereka. Tapi tidak dengan suara tawa. Sudah lama suara tawa hilang dari rumah itu—terkikis bentakan, amarah, dan diam yang menyesakkan. Damar berubah sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu. Ia duduk di kelas dua SMP saat itu. Sejak hari pemakaman, matanya tak pernah lagi menatap ibunya dengan hangat. Ia mulai sering membangkang, pulang larut, berkawan dengan anak-anak jalanan, dan diam-diam mulai mencoba rokok yang dulu hanya ia lihat diselipkan di bibir para sopir angkot. Ibu tak pernah memukul. Tak pernah mengutuk. Hanya menasihati dan menunggu, seperti langit menanti hujan yang tak kunjung datang. “Dam, jangan pulang malam. Ibu khawatir,” ucapnya suatu malam, lembut. “Kalau Ibu khawatir, ya sudah, tidur aja! Saya bisa jaga diri!” Damar menepis tangan ibunya yang menyentuh lengannya. Sorot matanya dingin. Malam itu ia pulang pukul dua ...

Secangkir Kopi untuk Istriku (Karya Er_El)

Pagi belum sepenuhnya datang, langit masih menggantungkan warna kelabu. Darto sudah berdiri di dapur sempit rumah kontrakannya. Tangannya mengaduk kopi dalam cangkir lusuh, pelan dan hati-hati, seolah setiap putaran sendok adalah doa yang ditumpahkan. Di meja makan yang penuh gores dan noda waktu, ia letakkan kopi itu di hadapan Mira, istrinya yang sedang duduk lelah dengan perut besar yang kian menegang jelang kelahiran. Mira menyambutnya dengan senyum pucat, menggenggam tangan Darto yang kasar dan dingin. “Kamu belum tidur lagi, ya?” suaranya pelan. Darto hanya menggeleng. Ia memang belum tidur. Tadi malam, selepas kerja parkir siang harinya, ia masih mengambil pekerjaan sebagai buruh bangunan demi tambahan uang untuk persalinan. Darto tak ingin Mira melahirkan di tempat seadanya. Ia ingin, walau sekali saja, memberikan yang terbaik. “Aku bisa kok kerja lagi, To,” ujar Mira dengan suara lirih. “Jangan. Kamu cukup jaga dia,” Darto menatap perut Mira sambil tersenyum. “Aku yang jaga ka...